Cecep Yusuf Avatar

Di Balik Trik Psikologis Penjualan: Mengungkap Rahasia Gimmick Pemasaran

Halo, teman-teman! Sudah pernahkah kalian merasa tertarik membeli suatu produk karena harganya ‘hanya’ 99 ribu, bukan 100 ribu? Atau pernahkah kalian memilih ukuran ‘tall’ di Starbucks, berpikir itu adalah ukuran yang besar? Di balik semua ini, ada strategi pemasaran yang cerdas yang disebut ‘gimmick’. Mari kita coba pelajari lebih lanjut.

1. Kenapa 99 ribu, bukan 100 ribu, atau 999 ribu, bukan 1 juta

Strategi ini disebut ‘psychological pricing’. Harga dengan angka 9 di belakangnya memberikan ilusi bahwa produk tersebut lebih murah, walaupun perbedaannya hanya 1 ribu atau 1 rupiah. Ini adalah trik psikologis yang efektif karena otak kita cenderung memproses angka dari kiri ke kanan, sehingga kita melihat harganya ‘di bawah’ harga bulat berikutnya.

Untuk memahaminya, kita perlu membayangkan sebuah kasus.

Suatu hari, Andi sedang berjalan-jalan di mal. Ia melihat toko sepatu favoritnya sedang mengadakan penjualan akhir musim. Di etalase, ia melihat sepatu dengan harga ‘hanya’ 299 ribu. Meski bukan merk yang biasa ia beli, harganya membuatnya tergoda. Ia berpikir, “Ini bukan 300 ribu, ini hanya 299 ribu! Lebih murah.”

Namun, jika Andi berpikir lebih dalam, ia akan menyadari bahwa perbedaan sebenarnya hanya 1 ribu. Mengapa, lantas, ia merasa bahwa 299 ribu jauh lebih murah daripada 300 ribu? Itu semua berkat trik psikologis dalam pemasaran.

Ketika kita melihat angka 299 ribu, otak kita cenderung memproses angka dari kiri ke kanan, membuat kita berpikir bahwa harga tersebut ‘di bawah’ 300 ribu. Meski sebenarnya, perbedaannya tidak signifikan. Jadi, meski terkesan sepele, strategi ini cukup efektif untuk menarik perhatian dan membuat konsumen merasa mendapatkan ‘deal’ yang bagus.

Andi kemudian memutuskan untuk membeli sepatu tersebut, merasa puas dengan ‘penawaran’ yang ia dapatkan. Inilah kekuatan ‘psychological pricing’, sebuah strategi sederhana namun efektif yang digunakan oleh penjual di seluruh dunia untuk menarik pembeli.

Setelah memahami ‘psychological pricing’, kita dapat menjadi konsumen yang lebih bijaksana. Selalu ingatlah bahwa perbedaan 1 ribu atau 1 rupiah mungkin tidak signifikan dalam konteks belanja kita. Jadi, sebelum memutuskan untuk membeli, selalu pertimbangkan nilai nyata dari produk yang kita inginkan, bukan hanya ilusi ‘hemat’ yang ditawarkan.

2. Diskon: Dinaikkan Dulu, Kemudian Didiskon

Trik lain yang sering digunakan adalah menaikkan harga awal produk, lalu memberikan diskon sehingga tampak seperti penawaran yang bagus. Ini memanfaatkan kecenderungan kita untuk merasa lebih senang mendapatkan ‘tawar menawar’ atau ‘diskon’. Walau pada kenyataannya, harga setelah diskon mungkin sama atau bahkan lebih tinggi dari harga normal.

3. Ukuran ‘Tall’, ‘Grande’, dan ‘Venti’ di Starbucks

Di Starbucks, ukuran ‘tall’ sebenarnya adalah ukuran kecil, ‘grande’ adalah medium, dan ‘venti’ adalah besar. Ini bisa mengecoh pembeli karena dalam bahasa Inggris, ‘tall’ berarti ‘tinggi’ dan bisa dianggap sebagai ukuran besar. Gimmick ini membantu menciptakan citra bahwa konsumen mendapatkan lebih banyak minuman untuk uang mereka.

Baiklah, teman-teman, sekarang mari kita lebih dalam membahas gimmick di Starbucks yang cukup unik. Ada sebuah kisah yang mungkin dapat membantu kita memahami lebih jauh.

Suatu hari, seorang pelanggan baru pertama kali mengunjungi Starbucks. Dia melihat menu dan merasa bingung dengan ukuran ‘tall’, ‘grande’, dan ‘venti’. Dia bertanya pada barista, dan barista menjelaskan bahwa ‘tall’ adalah ukuran kecil, ‘grande’ adalah ukuran medium, dan ‘venti’ adalah ukuran besar.

Pelanggan tersebut kemudian memutuskan untuk membeli ukuran ‘tall’. Namun, saat melihat harganya, dia merasa heran. Harganya hanya sedikit lebih murah dibandingkan dengan ukuran ‘grande’ dan ‘venti’, padahal porsinya jauh lebih kecil. Pelanggan tersebut merasa bahwa ‘tall’ bukan pilihan yang baik karena dia dapat mendapatkan lebih banyak minuman dengan sedikit tambahan harga jika dia memilih ‘grande’ atau ‘venti’.

Lalu, dia membandingkan harga antara ‘grande’ dan ‘venti’. Dia melihat bahwa perbedaan harganya tidak terlalu signifikan, meskipun porsi ‘venti’ lebih besar. Akhirnya, dia memutuskan untuk membeli ukuran ‘venti’, berpikir bahwa itu adalah penawaran yang lebih baik.

Inilah gimmick Starbucks. Mereka merancang ukuran dan harganya sedemikian rupa sehingga konsumen cenderung memilih ukuran ‘venti’. Walaupun sebenarnya, perbandingan antara harga dan porsi yang didapat mungkin tidak sesuai dan konsumen akhirnya menghabiskan lebih banyak uang.

Cerita ini memberi kita pelajaran bahwa kita harus selalu mempertimbangkan pilihan kita dengan cermat. Periksa dan bandingkan selalu porsi dan harga sebelum membuat keputusan. Jangan biarkan gimmick membuat kita membayar lebih untuk sesuatu yang mungkin tidak kita butuhkan. Selamat berbelanja dengan cerdas, teman-teman!

4. Promo Lainnya

Promo lainnya seperti ‘beli 1 gratis 1’ atau ‘gratis ongkos kirim’ juga merupakan gimmick. Meski tampak menguntungkan, kadang-kadang konsumen akhirnya membeli lebih banyak produk daripada yang mereka butuhkan, atau produk dengan harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan ‘gratis ongkir’.

Mari kita ambil contoh, teman-teman. Ada sebuah toko online yang menjual kaos dengan desain unik. Suatu hari, toko tersebut mengadakan promo ‘beli 1 gratis 1’. Seorang pembeli bernama Budi melihat promo ini dan merasa ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Dia segera memilih dua desain kaos yang dia sukai.

Namun, Budi sebenarnya hanya membutuhkan satu kaos. Dia sudah memiliki banyak kaos di lemari pakaiannya dan sebenarnya tidak membutuhkan kaos tambahan. Meskipun tampak seolah-olah dia mendapatkan kaos gratis, pada kenyataannya dia telah menghabiskan uang untuk barang yang tidak dia butuhkan.

Kasus lain adalah promo ‘gratis ongkos kirim’ dengan minimal belanja tertentu. Misalnya, sebuah toko buku online menawarkan ‘gratis ongkir’ untuk pembelian minimal 200 ribu rupiah. Siti, seorang pecinta buku, melihat promo ini dan merasa tergiur. Dia awalnya hanya berniat membeli satu buku seharga 150 ribu rupiah. Namun, untuk mendapatkan ‘gratis ongkir’, dia memutuskan untuk membeli buku lain sehingga total belanjanya mencapai 200 ribu.

Dalam situasi ini, Siti sebenarnya telah menghabiskan lebih banyak uang hanya untuk mendapatkan ‘gratis ongkir’. Dia mungkin berpikir dia telah menghemat uang untuk ongkos kirim, namun pada kenyataannya, dia telah membeli buku tambahan yang mungkin tidak dia butuhkan.

Dalam kedua contoh ini, promo atau gimmick telah mempengaruhi keputusan belanja konsumen. Oleh karena itu, sebagai konsumen, kita perlu berpikir kritis dan memastikan bahwa kita benar-benar mendapatkan nilai terbaik dari pembelian kita.

5. ‘Limited Edition’ dan ‘Terbatas Waktu’

Menyebut suatu produk sebagai ‘edisi terbatas’ atau penawaran ‘terbatas waktu’ menciptakan rasa urgensi bagi konsumen untuk segera membeli. Ini memanfaatkan prinsip psikologi yang disebut ‘Fear of Missing Out’ (FOMO), atau takut ketinggalan sesuatu.

Dalam dunia pemasaran, gimmick merupakan strategi yang penting untuk menarik perhatian konsumen dan mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Namun, sebagai konsumen, kita harus selalu cerdas dan berhati-hati. Sebelum membeli, pastikan kita membutuhkan produk tersebut dan harganya sesuai dengan nilai yang kita terima. Selamat berbelanja, teman-teman!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *